TRENDING NOW

BERITA TEKNOLOGI : Teknologi finansial alias fintech, ternyata tak cuma satu-satunya tren populer di ranah startup.
Solusi berbasis aturan hukum alias regulatory techonology (regtech) juga bisa diadopsi menjadi core business suatu startup. Sebut saja Lawble, perusahaan startup pertama di Indonesia dengan konsep regtech, yang menyediakan aplikasi khusus berisikan produk dan informasi hukum secara digital.

Lawble baru saja diresmikan dan didukung sejumlah praktisi hukum dan pejabat publik. Aplikasinya bahkan "direstui" langsung oleh Asosiasi Regtech Internasional.

CEO dan founder Lawble, Charya Rabindra Luksman, mengatakan terbentuknya Lawble terjadi atas kemelut problematika sehari-hari yang sulit menyelaraskan berbagai aturan hukum.

Startup Fintech Jadi Harapan Pendorong Ekonomi Digital Indonesia
Karena itu, ia berkolaborasi dengan beberapa partner untuk mendirikan startup  penyedia solusi dalam bentuk situs web dan aplikasi yang menawarkan akses ke seluruh produk hukum lebih mudah.

Pengguna hanya perlu memanfaatkan search tool untuk mencari segala jenis informasi yang berkaitan dengan hukum dari A-Z. Nanti, juga akan ada 50 ribu peraturan dan perundangan di Indonesia yang bisa membantu penggunanya untuk membuat produk hukum.

Charya menjelaskan, pengguna yang berasal dari kalangan praktisi hukum juga bisa memanfaatkan fitur kerja dengan memakai produk hukum dengan cara individu atau juga bisa dengan partner lain. Fitur tersebut diberi nama collaboration tool.

"Praktisi hukum pasti tahu bagaimana rumit dan kompleksnya mencari dasar-dasar informasi hukum dan penjelasannya. Dulu, caranya sangat manual. Saya bahkan harus memakai stabilo dan pembatas buku untuk bisa mencari dan menandai regulasi yang ingin dipahami atau dibaca," ujar Charya kepada Tekno Liputan6.com saat peluncuran Lawble di Jakarta, Kamis (28/9/2017) malam.

Charya mengungkap, tak cuma membesut aplikasi khusus yang menyediakan akses informasi hukum secara digital. Lawble juga berjuang untuk bisa menciptakan visi tercapainya regulatory inclusion. Pihaknya paham, untuk bisa mencapai titik tersebut dibutuhkan usaha dan sumber daya yang tak sedikit.

"Kami didukung para regulator, otoritas, Asosiasi Regtech dan LegalTech serta masih banyak lagi agar proses edukasi dan distribusi informasi ke masyarakat lebih luas, supaya mereka melek hukum," tukasnya.

Terkait aspek bisnis dan monetisasi dari startup, Lawble membidik Law Firm dan perguruan tinggi.

Pada 2017, Lawble menargetkan setidaknya ada sekitar 700 Law Firm, di mana satu Law Firm bisa mengantongi 10 pengguna Lawble dengan penetrasi pengguna 50 persen. Jadi, diprediksi akan ada 3.500-4.000 yang akan menjadi subscriber Lawble.

Lawble juga membidik perguruan tinggi di mana nanti akan ada 100 perguruan tinggi yang bergabung dengan total 2.000 orang.

Lawble tersedia untuk kalangan praktisi hukum dan masyarakat. Para praktisi hukum bisa mengakses fitur kolaborasi berbayar via www.lawble.com.
BERITA TEKNOLOGI : Apple telah mengumumkan iPhone X, tapi belum memberikan informasi terkait detail spesifikasinya. Namun, rasa penasaran konsumen setidaknya sedikit berkurang dengan munculnya informasi mengenai kapasitas baterai dan RAM, yang sebelumnya belum diungkapkan.
Dilansir Softpedia, Jumat (29/9/2017), Steve H. yang kerap membocorkan informasi berbagai produk, melalui kicauannya di Twitter, mengungkapkan kapasitas baterai dan RAM iPhone X.

Berdasarkan data yang didapatkannya dari badan sertifikasi peralatan telekomunikasi Tiongkok, Teena, iPhone X memiliki baterai 2.716mAh dan RAM 3GB.

Jika laporan itu benar, alasan Apple untuk memilih kapasitas baterai tersebut cukup dinanti. Pasalnya, kapasitas baterai iPhone X lebih kecil daripada para kompetitor iPhone X termasuk Galaxy Note 8. Phablet Samsung itu dilengkapi baterai 3.300 mAh.

Adapun Apple akan mulai menggelar pre-order iPhone X pada 27 Oktober 2017, sedangkan rencana peluncuran perdananya di pasar pada 3 November 2017. iPhone X dijual seharga US$ 999 untuk versi 64GB dan US$ 1.149 untuk 256GB.

Harga jualnya yang tinggi diyakini akan tetap memikat banyak konsumen. Analis KGI Securities, Ming-Chi Kuo, memperkirakan pre-order iPhone X bisa mencapai lebih dari 50 juta unit.

Salah satu fitur unggulan iPhone X yang menyita banyak perhatian adalah Face ID, sebagai pengganti fungsi Touch ID sebagai fitur keamanan.

Face ID bergantung pada kamera "TrueDepth", sebuah sistem yang di dalamnya termasuk kamera infra merah, flood illuminator dan dot projector yang memiliki lebih dari 30 ribu titik tak terlihat dan memindai wajah pengguna untuk membuat peta wajah unik.
BERITA TEKNOLOGI : Analis perusahaan layanan finansial Raymond James, Tavis McCourt, melihat iPhone X akan menarik minat banyak konsumen. Namun, siklus pembaruan iPhone di kalangan konsumen tidak akan berjalan cepat. Para pengguna iPhone memilih rentang waktu yang cukup lama untuk memperbarui smartphone mereka.
"Berdasarkan survei konsumen kami, pada September, tidak ada siklus upgrade yang cepat untuk iPhone 8 dan X, tapi terlihat ada permintaan yang mengejutkan untuk iPhone X dari pada 8," tulis McCourt dalam catatannya, seperti dilansir CNBC, Rabu (27/9/2017).

Dijelaskan McCourt, 37 persen pemilik iPhone yang mengikuti survei, berencana memperbarui perangkat mereka dalam waktu 12 bulan ke depan. Jumlahnya turun dibandingkan tiga tahun sebelumnya dengan rata-rata 44 persen.

Hasil survei juga menunjukkan, 14 persen pemilik iPhone berencana membeli versi terbaru dalam waktu tiga bulan ke depan. Jumlahnya turun dibandingkan rata-rata 15 persen pada tahun lalu dan 17 persen pada 2015.

"Data tersebut menunjukkan pembaruan tahun ini kemungkinan tidak menjadi 'supercycle', seperti yang banyak diperkirakan," ungkap McCourt.

Berdasarkan data tersebut, McCourt menurunkan prediksi penjualan iPhone untuk tahun fiskal 2018 dari sebelumnya 260 juta menjadi 240 juta. Kendati demikian, McCourt mengatakan ada kabar positif dari survei itu.

Ia mengungkapkan, 46 persen konsumen yang ingin memperbarui perangkat mereka berencana membeli iPhone X yang lebih mahal daripada iPhone 8 dan 8 Plus. Ia memperkirakan jajaran iPhone yang ada saat ini akan menguntungkan margin laba kotor Apple sebesar 2 persen pada tahun fiskal 2018.

"Kami memperkirakan puncak perdagangan (untuk saham Apple) akan terjadi pada semester I 2018, kemungkinan kuartal Maret," tutur McCourt.
BERITA TEKNOLOGI : Bertempat di Lotte Shopping Avenue, Jakarta, Jumat (29/9/2017), antrean pembeli perdana Samsung Galaxy Note 8 sudah tampak mengular sejak dibuka pukul 10.00 pagi tadi.

Galaxy Note 8 dibanderol seharga Rp 12.999.000. Pada paket pembelian perdana, pelanggan akan mendapat leather case Tumi, voucher aksesoris, dan Baskin Robbins.

pembeli pertama Galaxy Note 8, Ia adalah Zulfikar dari Pantai Indah Kapuk yang sudah mengantre sejak pukul 08.30. Zulfikar mengaku perangkat ini nanti akan digunakan untuk keperluan sendiri.

"Saya tertarik dengan Galaxy Note 8 karena kameranya ganda dan memiliki layar yang besar," tuturnya. Saat mengantre, ia juga turut didampingi oleh sang istri Yusliani.

Selain Zulfikar, pembeli perdana lainnya adalah Wendy, pria asal Sentul yang sudah tiba di area penjualan sekitar pukul 08.00 WIB.

Namun kesempatannya untuk menjadi pembeli pertama gagal karena ada masalah saat proses pembayaran. Ia sendiri mengaku merupakan salah satu pengguna seri Galaxy Note sejak tiga tahun lalu.

"Saya dulu menggunakan Galaxy Note 4, tapi memang skip untuk Galaxy Note 5. Dan kini memilih Galaxy Note 8 karena saya suka dengan S-Pen," tuturnya. Ia mengaku, S-Pen menunjang kegiatannya dalam pekerjaan, terutama dalam hal desain.
BERITA TEKNOLOGI : Usai resmi meluncurkan Galaxy Note 8 di Indonesia Samsung segera menggelar penjualan perdana smartphone tersebut di mal Lotte Shopping Avenue, Jakarta.
Antusiasme pelanggan yang ingin mendapatkan Galaxy Note 8 terbilang tinggi. Pembelian perdana Galaxy Note 8 ini sudah dibuka mulai sejak pukul 10.00 tadi.

Selain melayani penjualan langsung, Samsung juga menyiapkan booth khusus bagi para pelanggan yang ingin menjajal langsung smartphone ini. Dengan begitu, para pelanggan dapat merasakan langsung pengalaman yang ditawarkan Galaxy Note 8.

Berikut foto antrean para pembeli Samsung Galaxy Note 8 di mal yang berlokasi di Mega Kuningan ini:


Sekadar informasi, Galaxy Note 8 di Indonesia dibanderol dengan harga Rp 12.999.000. Pada paket pembelian perdana, pelanggan akan mendapat leather case Tumi, voucher aksesoris, dan Baskin Robbins.
BERITA TEKNOLOGI : Face ID merupakan salah satu fitur iPhone X yang paling menarik perhatian. Meski iPhone X belum dijual, cukup banyak yang penasaran dengan cara kerja fitur pengenalan wajah tersebut.
Dilansir Phone Arena, Jumat (15/9/2017), seorang developer software iOS, Guilherme Rambo, memberikan sedikit gambaran tentang fitur Face ID. Melalui akun Twitter miliknya, Rambo mengunggah informasi bahwa Face ID hanya bisa mengenali satu wajah.

Informasi tersebut berasal dari penulis situs web iMore, Rene Ritchie, yang sempat menjajal iPhone X. Keterbatasan jumlah pengenalan wajah pada Face ID sangat kontras jika dibandingkan Touch ID. Fitur pemindai sidik jari itu mendukung hingga lima jari berbeda.

"Ada beberapa keterbatasan pada Face ID yang bisa memengaruhi orang-orang. Hal terbesar adalah Face ID saat ini hanya bisa untuk satu wajah, tidak seperti Touch ID yang bisa didaftarkan hingga lima jari berbeda. Itu artinya, pengguna tidak bisa dengan mudah berbagi akses iPhone X dengan anggota keluarga, teman-teman dan kolega," tulisnya.

Seperti diketahui, Apple tidak menyediakan Touch ID pada iPhone X karena menggantinya dengan Face ID. Apple mengklaim tingkat eror pada Face ID 1:1.000.000, sedangkan Touch ID 1:50.000.
BERITA TEKNOLOGI : Perusahaan penyedia software keamanan, Avast, mengungkap adanya peningkatan serangan yang menargetkan perangkat smartphone dan tablet berbasis Android untuk setiap tahunnya, di mana pada kuartal kedua 2017 hampir mencapai 40 persen.
Dari rata-rata 1,2 juta serangan menjadi 1,7 juta serangan per bulan. Peneliti melacak sekitar 788 varian virus per bulan di mana naik 22,2 persen dari kuartal kedua 2016. Terdapat juga penemuan penting yang menunjukkan tiga ancaman mobile teratas yang didesain untuk memata-matai dan mencuri informasi pribadi.

Tiga di antaranya Rooters, Downloaders/Droppers, dan Fake Apps. Rooters (22,8 persen) meminta hak akses root kepada smartphone atau menggunakan exploit untuk mendapatkan hak akses root sehingga dapat mengontrol perangkat secara penuh untuk memata-matai dan mencuri informasi pengguna.

Downloaders atau Droppers (22,76 persen) menggunakan teknik social engineering untuk menipu pengguna agar menginstall aplikasi berbahaya lainnya. Droppers juga sering menampilkan iklan secara penuh di layar, meskipun di luar aplikasi itu sendiri.

Iklan yang ditampilkan tidak hanya mengganggu tetapi juga sering berkaitan dengan website berbahaya. Kemudian Fake Apps (6,97 persen) adalah aplikasi ilegal yang menyamar sebagai aplikasi terpercaya untuk melakukan download dan menampilkan iklan ke pengguna.

"Serangan cybersecurity mobile berkembang dengan sangat pesat karena teknik hacker lebih gencar dan berbahaya sehingga yang menjadi taruhannya adalah data pribadi dan privasi pengguna," ungkap Gagan Singh, SVP & GM of Mobile and IoT Avast melalui keterangannya, Jumat (15/9/2017) di Jakarta.

Untuk mengidentifikasi ancaman itu Avast meng-update aplikasi mobile Avast Mobile Security & Antivirus dan AVG Antivirus yang sekarang menggabungkan masing-masing teknologi pendeteksian ancaman dalam satu engine.

Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk melindungi foto dan data pribadi dengan lapisan keamanan tambahan serta meningkatkan daya baterai agar perangkat mobile dapat lebih lama digunakan.

Sementara AVG Antivirus menyediakan perlindungan untuk pengguna smartphone dari pencurian data atau pelanggaran privasi dari aplikasi dan panggilan berbahaya. Pengguna AVG pun dapat merasakan performa smartphone yang maksimal dengan adanya fitur pembersih baru.

"Kami terus memperbarui solusi keamanan mobile untuk mengatasi ancaman baru dengan memanfaatkan teknologi AI dan machine learning andal yang dikombinasikan dengan jaringan pendeteksian ancaman terbesar di dunia untuk menjaga pengguna tetap aman ketika online," pungkas Singh.